Senin, 28 Maret 2016
Burhanuddin Baharuddin: Banggalah sebagai Orang Takalar
"Saya ingin melihat Takalar maju. Saya ingin masyarakat Takalar bangga menjadi orang Takalar. Sudah saatnya kita berhenti membanggakan daerahnya orang. Kita perlu membangun sesuatu yang baik untuk menjadi kebanggaan kita sebagai orang Takalar. Banggalah sebagai orang Takalar. Banggalah jadi orang Takalar."
- Burhanuddin Baharuddin - (Bupati Takalar, 2012-2017)
Burhanuddin Baharuddin: Jangan Kerja Setengah-setengah
“Pesan orangtua saya, jangan bikin susah orang. Kerja yang baik. Kalau memang tidak mampu melakukan sebuah pekerjaan, lebih baik berterus-terang mengakui. Jangan bekerja setengah-setengah, karena tidak ada hasil yang bagus dari kerja setengah-setengah.”
- Burhanuddin Baharuddin -
(Bupati Takalar)
Minggu, 21 Februari 2016
Yunan Yunus Kadir: Ikhlas Mengabdi dan Berbuat untuk Umat
“Sebagai anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga Muhammadiyah, saya tentu sudah cukup kenal organisasi ini. Saya sudah mengenal Muhammadiyah sejak SMP, karena aktif berlatih beladiri di Tapak Suci. Ayah memperkenalkan saya kepada pengurus Muhammadiyah dan mengikutkan saya dalam berbagai kegiatan di Muhammadiyah. Saya ikhlas mengabdi dan berbuat untuk umat melalui Muhammadiyah.”
- Yunan Yunus Kadir -
(Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel)
Jumat, 28 Agustus 2015
Rahman Arge: Diciduk Demi Membela Korps Wartawan
Jejak Rahman Arge sebagai wartawan berawal pada tahun 1955 bersama sahabatnya yang sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah, Arsal Alhabsy. Semula, almarhum hampir menjadi pegawai Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran Belanda. Tetapi, Arsal selalu mengajaknya bergaul dengan M Basir, Salman AS, LE Manuhua, dan Achmad Siara. Dari mereka itulah, Arge menemukan atmosfir dan suasana tentang betapa idealnya menjadi wartawan.
Senin, 24 Agustus 2015
Banyak Berkorban untuk UNM
“Kepercayaan Pak Idris kepada saya sangat tinggi. Beliau itu cukup sering berkorban untuk UNM. Pekuburan UNM yang berlokasi di daerah Limbung, Gowa, itu dibeli dengan uang pribadi beliau dan uang itu tidak diganti oleh UNM. Mungkin tidak banyak yang tahu, tapi saya tahu karena saya sangat dekat dengan beliau,” tutur Basri Wello.
Langganan:
Postingan (Atom)




