Jumat, 28 Agustus 2015
Rahman Arge: Diciduk Demi Membela Korps Wartawan
Jejak Rahman Arge sebagai wartawan berawal pada tahun 1955 bersama sahabatnya yang sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah, Arsal Alhabsy. Semula, almarhum hampir menjadi pegawai Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran Belanda. Tetapi, Arsal selalu mengajaknya bergaul dengan M Basir, Salman AS, LE Manuhua, dan Achmad Siara. Dari mereka itulah, Arge menemukan atmosfir dan suasana tentang betapa idealnya menjadi wartawan.
Senin, 24 Agustus 2015
Banyak Berkorban untuk UNM
“Kepercayaan Pak Idris kepada saya sangat tinggi. Beliau itu cukup sering berkorban untuk UNM. Pekuburan UNM yang berlokasi di daerah Limbung, Gowa, itu dibeli dengan uang pribadi beliau dan uang itu tidak diganti oleh UNM. Mungkin tidak banyak yang tahu, tapi saya tahu karena saya sangat dekat dengan beliau,” tutur Basri Wello.
Sabtu, 27 September 2014
Prof Qadir Gassing: Gerakan 1000 Buku, Rekor MuRI, dan Penghargaan Kongres AS
Melalui Gerakan Seribu Buku itu, Qadir Gassing ingin para dosen, mahasiswa, dan alumni UIN Alauddin menulis dan menghasilkan buku sebanyak 1.000 buah dalam empat tahun (periode kepemimpinan Qadir Gassing, 2011-2015). Maka terbitlah 250 buku karya para dosen, mahasiswa, dan alumni UIN Alauddin pada tahun 2012. Capaian tersebut kemudian tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MuRI) dan juga penghargaan dari Perpustakaan Kongres Amerika Serikar (Library of Congres USA). (int)
Selasa, 16 September 2014
Prof Qadir Gassing: Wujudkan Impian di UIN Alauddin
Setelah sukses dengan program Gerakan Seribu Buku yang menghasilkan Rekor MuRI (Museum Rektor Indonesia) dan penghargaan dari Perpustakaan Kongres Amerika Serikat, Prof Qadir Gassing selaku Rektor UIN Alauddin kemudian mengalihkan perhatiannya kepada perbaikan metodologi pengajaran. (Foto: Asnawin)
Jumat, 04 April 2014
Langganan:
Postingan (Atom)




